Berapa banyak air mata tumpah akibat patah hati karena putus cinta. Juga berapa banyak kaki masih terikat rantai cinta masa lalu. Orang yang meninggalkan ditangisi sedemikian rupa.
Cinta memang tidak mengenal logika. Okelah dikatakan demikian. Justru karena tidak mengenal logika, orang memiliki kebebasan berkreativitas dalam memaknai cinta. Bukan menelan mentah-mentah persepsi yang pernah didengar yang belum tentu benar yang justru melemahkan jiwa. Berpandangan terbuka terhadap makna cinta akan memberikan kesempatan pada diri menemukan makna cinta yang membangun jiwa, menguatkan jiwa.
Patah hati karena ditinggalkan kekasih. Bagaimana kalau ini adalah bagian dari skenario Tuhan untuk memberikan Anda kesempatan bertemu pasangan hidup yang lebih baik dari kekasih yang meninggalkan Anda itu.
Kalau Anda mencintai kekasih yang meninggalkan Anda itu, biarkan dia bahagia dengan pilihannya. Bukankah Anda mencintai dia? Kalau mencintai, kan, yang penting adalah kebahagiaannya. Karena mencintai dia, begitu dia bahagia, otomatis Anda bahagia.
Kalau tidak, jangan-jangan Anda yang kekurangan cinta, Anda yang membutuhkan cinta, Anda tidak cukup mencintai diri Anda sendiri. Seseorang yang sungguh mencintai diri sendiri, akan bahagia tanpa cinta orang lain. Ia sudah melimpahi diri sendiri dengan cinta, ia punya banyak cinta yang cukup untuk diri sendiri dan orang lain.
Rantai cinta masa lalu juga, jangan sampai menjadi penghalang untuk menikmati kebahagiaan hidup di masa kini dan nanti. Pandai-pandailah mencari makna dalam kehidupan dalam konteks apa saja. Semua orang berhak bahagia. Dan kebahagiaan adalah tanggung jawab masing-masing orang.
Seseorang yang meratap-ratapi patah hatinya dan berat melangkah karena kaki dibelenggu rantai cinta masa lalu adalah sedang kecanduan cinta yang ternyata adalah morfin psikologis.
Dalam pengaruh morfin psikologis cinta itu, imajinasinya bisa dahsyat liarnya. Ia berpikir akan bahagia bila kekasihnya tidak meninggalkannya. Atau, ia menjadi benci pada kekasih yang meninggalkannya itu.
Benci yang dipelihara itu lalu menggerogoti hatinya. Bila tidak segera menyadari kondisi ini, hatinya bisa habis sehingga ia menjadi pribadi yang tidak memiliki hati. Menjadi orang yang tidak punya hati. Benci yang dipupuk membuatnya mengunci hati. Bencinya beranak-pinak, sehingga ia juga membenci semua orang yang berjenis kelamin sama dengan kekasihnya, misalnya. Ini bisa menjelaskan mengapa ada orang bunuh diri karena patah hati.
Untuk menghindari situasi membahayakan tersebut, hapus perasaan benci di dalam hati. Juga hapus perasaan menyesal. Menghapus perasaan benci dan menyesal akan menetralisir suasana hati. Dan lalu akan berlanjut pada pemulihan diri. Untuk selanjutnya latih diri sendiri untuk tidak terlalu cinta atau terlalu benci. Sewajarnya saja dalam mencintai seseorang, sehingga ketika kehilangan tidak akan terlalu menyakitkan. yang berlebihan memang selalu tidak baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar